Selasa, 09 September 2025

Rumah Bagi Aksara

🏑 Menjadi rumah bagi kata-kata.


Aku menulis bukan karena aku paling pandai merangkai kalimat, tapi karena aku tak tahu cara lain untuk bertahan. Sejak lama, kata-kata menjadi rumah yang selalu bisa kupulangin—entah di saat bahagia, patah, ataupun sepi.


Namaku [Bhumira atau Malika inneke khoiruniesa], penulis yang sedang belajar menemukan dirinya lewat cerita. Aku suka menulis fiksi, puisi, dan catatan kecil yang lahir dari percakapan sehari-hari. Dari hal-hal sederhana, aku percaya ada makna yang bisa diselipkan.

Menulis bagiku adalah perjalanan panjang. ada kalanya aku tersesat dalam alur cerita, ada kalanya aku menemukan diriku sendiri di antara tokoh-tokoh yang kuciptakan. Aku menulis bukan untuk menjadi sempurna, melainkan untuk jujur.

Saat ini aku sedang mengerjakan sebuah project novel berjudul “Rahasia Yang Berlari”, yang akan segera kubagikan di wattpad. Semoga setiap kata yang lahir bisa menemukan pembacanya, dan semoga cerita ini bisa menjadi rumah kecil juga bagi siapa pun yang membacanya.

✨ Aku penulis yang sedang berproses, dan barangkali, kata-kata adalah cara terbaik untuk mengabadikan perjalanan itu.

Dari Resah Lahir Sebuah Cerita

πŸ’†πŸ»‍♀️ Saat kata menjadi pelabuhan.

Ada orang yang berlari ke musik untuk sembuh, ada yang memilih jalan jauh untuk melupakan. Aku? aku menulis.

Menulis bukan sekadar hobi—ia adalah pelabuhan tempat segala resah berlabuh. Setiap kali dunia terasa terlalu bising, aku menemukan sunyi yang nyaman di balik lembar kosong. Huruf-huruf itu seperti perahu kecil, membawaku menyeberang dari gelisah menuju tenang.

Banyak yang bertanya, “apa inspirasimu menulis?”
Jawabannya sederhana sekaligus rumit: Kehidupan.
Dari obrolan ringan di warung kopi, dari wajah asing yang kutemui di jalan, dari hujan yang jatuh tanpa janji, dari kehilangan yang diam-diam masih mengintip di dada.

Menulis membuatku sadar, bahwa setiap hal—sekecil apa pun—punya cerita. Kadang kita hanya perlu duduk sebentar, memperhatikan, lalu membiarkan kata-kata bekerja sendiri.

Dan di situlah letak keindahannya: menulis bukan soal siapa yang paling cepat atau paling indah, melainkan siapa yang paling jujur.


🌱 Catatan kecil untuk sesama penulis

☄️ Jangan menunggu inspirasi datang, karena kadang ia bersembunyi di balik hal sederhana.

☄️ Biarkan tulisanmu jujur, meski sederhana. karena yang jujur selalu lebih sampai ke hati.

☄️ Jangan takut jelek, karena tulisan yang buruk bisa diperbaiki. yang tak pernah ditulis, akan hilang selamanya.


Menulis adalah perjalanan panjang. Kadang melelahkan, kadang membuat ingin berhenti. Tapi bukankah perjalanan selalu punya kejutan di setiap tikungan? begitu pula dengan kata.

Dan hari ini, aku kembali menulis. Bukan karena harus, tapi karena ingin.

Karya Yang Lahir Dari Sunyi

πŸ‘£ Awal langkah, awal kata.

Setiap penulis pasti punya jejak pertama. Mungkin masih ragu, mungkin belum sempurna, tapi di situlah keindahannya—sebuah permulaan.
Aku sendiri baru memulai perjalanan ini. Belum banyak karya yang lahir, tapi ada satu cerita yang kini sedang kutulis dengan penuh hati.


✨ Project pertama: Rahasia yang berlari

Sebuah novel yang akan aku publish di wattpad.
Cerita ini lahir dari pertanyaan-pertanyaan yang lama berdiam di kepalaku: tentang rahasia, luka, dan keberanian untuk terus melangkah meski masa lalu tak henti mengejar.

status: on-going project
platform: wattpad (segera publish)

πŸ“– inilah langkah pertamaku. kecil, tapi berarti. semoga rahasia yang berlari bukan hanya jadi cerita untuk kubaca ulang, tapi juga bisa jadi rumah bagi siapa pun yang singgah di halamannya.



Sinopsis — Rahasia yang berlari

Ada rahasia yang tak bisa dikubur begitu saja. Semakin dicoba untuk dilupakan, semakin keras ia berlari mengejar.

Rahasia yang berlari adalah kisah tentang seseorang yang dipaksa berhadapan dengan masa lalunya. Rahasia itu tidak hanya menyimpan luka, tapi juga kebenaran yang bisa mengubah segalanya. Dalam perjalanan penuh kehilangan dan keberanian, ia belajar bahwa berlari selamanya bukanlah jawaban—karena cepat atau lambat, rahasia itu akan menuntut untuk dihadapi.

Novel ini mengajak pembaca menyelami pertanyaan yang sederhana tapi berat: berapa jauh kita bisa berlari dari kebenaran?

Senin, 08 September 2025

Dari Letih Lahir Sebaris Cerita

☕ Antara kopi yang dingin dan kata yang belum selesai.

Hari ini aku duduk di meja tulis lebih lama dari biasanya. Ada lembar kosong di buku catatan harian ku, menatapku balik seolah menantang: “ayo, tulislah sesuatu.”
Anehnya, jemariku malah kaku. Seolah semua kata menolak keluar.

Aku menyeruput kopi yang sejak tadi lupa kuminum. Rasanya sudah dingin, tapi tetap memberiku sedikit alasan untuk bertahan di depan halaman kosong itu. Menulis memang begini: kadang lancar seperti arus sungai, kadang macet seperti jalanan kota di sore hari.

Tapi anehnya, justru di momen macet itulah aku menemukan diriku sendiri. Aku sadar, menulis bukan cuma soal menghasilkan cerita yang indah, tapi juga soal berdamai dengan kegagalan, dengan rasa malas, dengan sepi yang sering datang tiba-tiba.

Hari ini aku mungkin hanya menulis dua paragraf yang belum tentu akan kubiarkan bertahan sampai draft final. Tapi tidak apa-apa. Karena menulis, buatku, adalah perjalanan—bukan garis finish.

Dan mungkin, saat aku menutup buku, kata-kata itu sedang mengendap, mencari waktu yang tepat untuk lahir. Seperti kopi yang sempat dingin, tapi tetap bisa memberi rasa.


✨ Catatan ini kutulis bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diriku sendiri: penulis yang sedang belajar, penulis yang masih sering kalah oleh malas, penulis yang tetap percaya bahwa setiap kata punya waktunya untuk ditemukan.

Membaca Jejak, Merekam Rasa

πŸ“– Di antara riak laut, ada cerita yang tak pernah tenggelam.

Ada buku yang tak hanya dibaca, tapi juga dirasakan. Laut bercerita karya Leila S. Chudori adalah salah satunya. Novel ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ruang sunyi yang penuh suara—jeritan, rindu, dan kehilangan yang membekas jauh setelah halaman terakhir ditutup.

🌊 Kisah yang menyingkap luka

Novel ini bercerita tentang Biru Laut, mahasiswa aktivis yang terjebak dalam pusaran politik Indonesia era 1990-an. Lewat sudut pandang Biru dan keluarga yang ia tinggalkan, kita diajak menyelami getirnya hidup di masa kelam, saat suara kebenaran kerap dipaksa hilang.
Membacanya seperti mendengar bisikan para korban: lirih, tapi tajam.

✍️ Gaya bahasa yang mengikat

Leila menulis dengan bahasa yang puitis tapi tetap membumi. Setiap kalimat seolah ditulis dengan darah dan air mata. Tak berlebihan, tak pula dingin—cukup untuk membuat pembaca berhenti sejenak, menarik napas, lalu melanjutkan membaca dengan dada yang sesak.

🌌 Kenapa harus dibaca?

🀍 Karena ini bukan hanya novel, tapi bagian dari sejarah bangsa yang kerap dilupakan.

🀍 Karena setiap tokohnya mewakili rasa yang universal: cinta, kehilangan, dan keberanian.

🀍 Karena lewat laut bercerita, kita belajar bahwa mengingat adalah bentuk melawan lupa.


🌱 Rekomendasi untuk siapa?

Buku ini aku rekomendasikan buat kamu yang:

🌟 Suka novel sejarah dengan sentuhan sastra yang kuat, ingin merasakan emosi yang dalam lewat sebuah cerita,

atau sedang mencari bacaan yang bukan sekadar hiburan, tapi juga refleksi.


πŸ“– laut bercerita bukan bacaan ringan, tapi ia akan meninggalkan jejak. seperti laut yang luas, ia menyimpan banyak hal: kerinduan, ketakutan, juga harapan.



Rumah Bagi Aksara

🏑 Menjadi rumah bagi kata-kata. Aku menulis bukan karena aku paling pandai merangkai kalimat, tapi karena aku tak tahu cara lai...