☕ Antara kopi yang dingin dan kata yang belum selesai.
Hari ini aku duduk di meja tulis lebih lama dari biasanya. Ada lembar kosong di buku catatan harian ku, menatapku balik seolah menantang: “ayo, tulislah sesuatu.”
Anehnya, jemariku malah kaku. Seolah semua kata menolak keluar.
Aku menyeruput kopi yang sejak tadi lupa kuminum. Rasanya sudah dingin, tapi tetap memberiku sedikit alasan untuk bertahan di depan halaman kosong itu. Menulis memang begini: kadang lancar seperti arus sungai, kadang macet seperti jalanan kota di sore hari.
Tapi anehnya, justru di momen macet itulah aku menemukan diriku sendiri. Aku sadar, menulis bukan cuma soal menghasilkan cerita yang indah, tapi juga soal berdamai dengan kegagalan, dengan rasa malas, dengan sepi yang sering datang tiba-tiba.
Hari ini aku mungkin hanya menulis dua paragraf yang belum tentu akan kubiarkan bertahan sampai draft final. Tapi tidak apa-apa. Karena menulis, buatku, adalah perjalanan—bukan garis finish.
Dan mungkin, saat aku menutup buku, kata-kata itu sedang mengendap, mencari waktu yang tepat untuk lahir. Seperti kopi yang sempat dingin, tapi tetap bisa memberi rasa.
✨ Catatan ini kutulis bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diriku sendiri: penulis yang sedang belajar, penulis yang masih sering kalah oleh malas, penulis yang tetap percaya bahwa setiap kata punya waktunya untuk ditemukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar